RSS

Akhwat Sejati

Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya, “Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”.  Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab:

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari kecantikan hati yang ada dibaliknya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tapi dilihat dari sejauh mana Ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari keikhlasan Ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.

Sang Ayah terdiam sembari menatap putrinya “Lantas apa lagi Abi…?”

Ketahuilah putriku…. Akhwat Sejati bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertaruhkan kehormatannya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatirannya yang mengundang orang jadi tergoda.

Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya

“Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”

Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari

kecantikan hati yang ada dibaliknya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tapi dilihat dari

sejauh mana Ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari begitu banyak kebaikan yang diberikan, tetapi dari

keikhlasan Ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dari

apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari keahlIannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya berbicara.

Sang Ayah terdIam sembari menatap putrinya

“Lantas apa lagi Abi…?”

Ketahuilah putriku….

Akhwat Sejati bukan dilihat dari keberaniannya berpakaian, tetapi dilihat dari

sejauh mana Ia berani mempertaruhkan kehormatannya.

Akhwat Sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari

kekhawatirannya yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujIan yang Ia jalani, tetapi dilihat dari

sejauh mana Ia menghadapi ujian itu dengan Syukur.

Dan Ingatlah…!!!

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari

sejauh mana Ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.

Setelah itu Sang anak kembali bertanya

“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi…?”

Sang Ayah memberikan sebuah buku dan berkata

“Pelajarilah mereka!!”

Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan

“ISTRI PARA NABI”

Meski kita bukanlah salah satu dari Istri Nabi

Tapi meneladaninya adalah sebuah bentuk kecintaan kita terhadap

Allah SWT

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujIan yang Ia jalani, tetapi dilihat dari sejauh mana Ia menghadapi ujian itu dengan Syukur.

Dan Ingatlah…!!!

Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana Ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.

Setelah itu Sang anak kembali bertanya “Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi…?”.  Sang Ayah memberikan sebuah buku dan berkata “Pelajarilah mereka!!”.

Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan “ISTRI PARA NABI” .

Meski kita bukanlah salah satu dari Istri Nabi Tapi meneladaninya adalah sebuah bentuk kecintaan kita terhadap Allah SWT.

 
1 Comment

Posted by pada September 25, 2010 in Renungan...

 

Kaitkata: ,

Harmoni…

Bismillaah…

Cukup lama juga saya ‘tak berbagi dalam blog sederhana ini. Entah saya yang memang sibuk, atau hanya merasa sibuk saja… Namun yang pasti, kali ini saya ingin menyapa sahabat melalui sebuah lagu yang menyimpan kenangan di masa lalu. Dan tentunya, telah ajari saya satu hal yang baru…

Sebuah lagu milik Padi yang berjudul Harmoni

Aku mengenal dikau
‘Tak cukup lama…separuh usiaku
Namun begitu banyak pelajaran
yang aku terima
Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
‘Kan terwujud Harmoni…
Segala kebaikan..
‘Tak ‘kan terhapus oleh kepahitan
Kulapangkan resah jiwa..
Karna kupercaya..
Kan berujung indah…
Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Kan terwujud Harmoni…
 
Leave a comment

Posted by pada Mei 27, 2010 in sebuah kenangan

 

Kaitkata: ,

Sudahkah Pernikahan Kita…??

Gambar di atas adalah gambar yang saya temukan barusan, ketika tengah mencari gambar yang cocok buat gambar tulisan sebelumnya. Hmm, jadi dapat perenungan lagi nih…

Sudahkah pernikahan kita, kita niatkan sebagai salah satu jalan untuk kita berjuang?

Ah, saya pun masih belajar…

 
2 Comments

Posted by pada Februari 17, 2010 in Renungan...

 

Kaitkata: , , ,

Hmm, Apakah Mahar Kita Untuk Kebahagiaan Tiada Akhir Itu…?

” Selangkah ke alam perjuangan berarti selamanya dalam kepahitan, biarlah menangis, terluka, kecewa karena Allah, daripada mati tanpa Mujahadah.

Kita ‘tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah tiap peluh keringat dan air mata jatuh, itulah Mahar kita menuju syurga,

bila ditanya mengapa perjuangan itu pahit?

Jawabannya karena Syurga itu manis…” (Wudda/1/Shafar 1430).

Tulisan di atas adalah sederet kata-kata yang saya dapatkan dari salah satu buletin lokal di tempat saya mengajar. Kata-kata itu cukup menggetarkan hati saya. Semoga sahabat pun dapat merasakan hal yang sama. Ya, perjuangan memang butuh pengorbanan. Meski kadang perjuangan itu terasa pahit, namun buah yang dihasilkan kelak akan terasa manis, insyaAllah…

Hmm, sahabat…

Apa yang telah kita persiapkan untuk mahar kita menuju kebahagiaan tiada akhir di sisi-Nya kelak???

Semoga kita termasuk di antara orang-orang yang mendapat naungan rahmat dan hidayah-Nya… Amin.

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 17, 2010 in Hikmah

 

Kaitkata: , , , , , , ,

Belajar Tentang Sebuah Ketaatan…

Kita adalah makhluk Allah yang diciptakan paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Dengan hati nurani, kita dapat merasakan kepedulian kepada sesama. Dengan akal dan fikiran, kita dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Maka kita, sebagai makhluk-Nya yang berhati nurani dan berakal patut untuk mensyukuri segala anugerah yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita selaku ummat manusia. Suka ataupun duka, tenang ataupun gelisah merupakan satu ketentuan yang telah Allah persiapkan untuk perjalanan hidup kita sebagai ummat manusia yang beriman kepada-Nya. Karena semua itu tiada lain merupakan suatu rangkaian qadla dan qadar yang telah dibuat-Nya dari jauh-jauh hari sebelum kita hadir mereguk dunia yang fana ini.

Allah telah ajarkan kita untuk taqwa kepada-Nya dengan menghadirkan orang-orang terdahulu yang taat beribadah dan hidup dalam naungan keimanan yang kuat. Mereka rela dicaci maki demi memperjuangkan agama dan keimanan mereka. Bilal bin Rabah misalnya, ia adalah seorang budak hitam yang rela dijemur di tengah-tengah panasnya padang pasir dengan ditindihi sebuah batu besar hanya demi mempertahankan keimanannya kepada agama Allah SWT. Dan nabi kita, Muhammad SAW adalah seorang utusan Allah yang telah dima’sum atas segala dosanya baik itu yang telah terjadi ataupun yang belum terjadi, namun meskipun Allah telah memberikan jaminan tersebut kepada beliau, beliau tetap menyibukan dirinya dengan beribadah dan berdzikir kepada Rabbnya yang Mahaagung. Segala pengorbanan dan ketaatan itu tiada lain karena didasarkan rasa cinta dan keimanan yang kuat yang telah bersemayam didalam diri-diri mereka.

Dan dengan makhluk-Nya yang lain, Allah ajarkan kita arti sebuah ketaatan. Ia ajari kita ketaatan dengan taatnya matahari yang terbit di setiap pagi, dengan ketaatan bumi yang berputar pada poros yang telah ditentukan, dan dengan ketaatan malam yang menggantikan siang sebagai waktu untuk beristirahat bagi seluruh makhluk di muka bumi ini. Jika mereka, makhluk yang tidak bernyawa saja senantiasa taat kepada yang menciptakannya, maka kita sebagai makhluk-Nya yang berhati nurani dan memiliki akal fikiran akankah tetap diam dalam kelalaian dari taat kepada-Nya? Bukankah Allah telah menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain?

Firman Allah dalam Al-Qur’an: ” Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. ” (QS. 59:21)

Jika gunung saja yang berukuran sangat besar akan terpecah belah disebabkan ketakutan mereka kepada Allah, maka bagaimana dengan hati dan nurani kita? Akankah ia terpecah belah karena rasa takut yang menggema dalam diri kita? Atau malah hati dan nurani kita lebih keras daripada batu dan gunung sekalipun, sehingga ia enggan untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya?

Saudaraku, Allah begitu lembut dan setia kepada hamba-hamba-Nya meskipun hamba-Nya itu telah terlampau jauh dari ketaatan kepada-Nya, meskipun kelalaian dunia telah meninabobokan seorang hamba dalam dosa, meskipun mereka telah lupa kepada Khalik yang telah menciptakan mereka. Allah tetap akan memberikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan kembali hidup dalam ketaatan. Jika satu langkah kita mendekat kepada-Nya, maka seribu langkah Allah mendekat kepada kita. Jika kita mendekati-Nya dengan cara berjalan, maka Allah akan mendekati kita dengan cara berlari. Perumpamaan ini menjadi sebuah gambaran bahwa betapa Allah Mahapengasih kepada seluruh makhluk-Nya. Tidakkah sikap Allah yang Mahapengasih itu menggerakan hati dan nurani kita untuk kembali hidup dalam tatanan ketaatan kepada-Nya? Belum juakah berbagai kenikmatan yang Allah limpahkan kepada kita menjadikan kita berani untuk berkorban demi agama-Nya yang haq? Dan akankah kita tetap diam dalam tatanan kehidupan yang semakin jauh dari sikap taat kepada-Nya? Membiarkan diri kita semakin lupa kepada Tuhan yang telah menciptakan kita dari setetes air yang begitu hina? Pantaskah kita untuk membangkang dan bersikap sombong layaknya iblis yang menolak untuk bersujud kepada Adam karena kesombongannya yang merasa bahwa dirinya jauh lebih baik dan kuat?

Sama sekali tidak, saudaraku. Sayang sekali jika kita habiskan sisa usia kita yang sedikit ini dengan sebuah pembangkangan kepada Allah dan segala perintah-Nya. Karena walau bagaimanapun, kita pasti akan menemui kehidupan akhirat yang abadi. Dan tidaklah sama pera penghuni neraka dengan para penghuni syurga. Jalan manakah yang akan kita pilih, siksaan yang abadi atau kenikmatan yang tiada tergambarkan di dunia sekalipun?

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahabijaksana. ” (QS. 59:24)

 
2 Comments

Posted by pada Februari 17, 2010 in Hikmah

 

Kaitkata: , , , , ,

Adakah kita…??


 
1 Comment

Posted by pada Februari 13, 2010 in Hikmah

 

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 13, 2010 in Hikmah

 

Kehujjahan Al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum Islam yang Utama

A. Kebenaran Al-Qur’an

Abdul Wahab Khallaf (Mardias Gufron, 2009) mengatakan bahwa “kehujjahan Al-Qur’an itu terletak pada kebenaran dan kepastian isinya yang sedikitpun tidak ada keraguan atasnya”.  Hal ini sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

ذَالِكَ الْكِتَابُ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًىلِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Q. S. Al-Baqarah, 2 :2).

Berdasarkan ayat di atas yang menyatakan bahwa kebenaran Al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya, maka seluruh hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an merupakan aturan-aturan Allah yang wajib diikuti oleh seluruh ummat manusia sepanjang masa hidupnya.

M. Quraish Shihab (Mardias Gufron, 2009) menjelaskan bahwa “seluruh Al-Qur’an sebagai wahyu, merupakan bukti kebenaran Nabi SAW sebagai utusan Allah, tetapi fungsi utamanya adalah sebagai petunjuk bagi seluruh ummat manusia”.

B. Kemukjizatan Al-Qur’an

Mukjizat memiliki arti “sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa manusia membuatnya karena hal itu adalah di luar kesanggupannya” (Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsiran Al-Qur’an, 1990).

Mukjizat merupakan suatu kelebihan yang Allah SWT berikan kepada para nabi dan rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulan mereka, dan untuk menunjukan bahwa agama yang mereka bawa bukanlah buatan mereka sendiri melainkan benar-benar datang dari Allah SWT. Seluruh nabi dan rasul memiliki mukjizat, termasuk di antara mereka adalah Rasulullah Muhammad SAW yang salah satu mukjizatnya adalah Kitab Suci Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW, karena Al-Qur’an adalah suatu mukjizat yang dapat disaksikan oleh seluruh ummat manusia sepanjang masa, karena Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk keselamatan manusia kapan dan dimana pun mereka berada. Allah telah menjamin keselamatan Al-Qur’an sepanjang masa, hal tersebut sesuai dengan firman-Nya yang berbunyi,

إَنَّانَحْنُ نَزَّلْنَا الذّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظِوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q. S. Al-Hijr, 15:9).

Adapun beberapa bukti dari kemukjizatan Al-Qur’an, antara lain:

  1. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berisi tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa mendatang, dan apa-apa yang telah tercantum di dalam ayat-ayat tersebut adalah benar adanya.
  2. Di dalam Al-Qur’an terdapat fakta-fakta ilmiah yang ternyata dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan pada zaman yang semakin berkembang ini.

C. Dasar-Dasar Al-Qur’an dalam Membuat Hukum

Allah SWT menurunkan Al-Qur’an untuk dijadikan dasar hukum yang disampaikan kepada ummat manusia agar mereka mengamalkan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pedoman Al-Qur’an dalam mengadakan perintah dan larangan-Nya adalah tidak memberatkan dan diturunkan secara berangsur-angsur.

Al-Qur’an Tidak Memberatkan

Al-qur’an diturunkan tidak untuk memberatkan ummat manusia, sebagaimana firman-Nya:

يُرِيْدُاللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَوَلاَيُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Artinya: “Allah menghendaki kelonggaran bagimu dan tidak menghendaki kesempitan bagimu” (Q.S. Al-Baqarah, 2:185).

Al-Qur’an Turun Secara Berangsur-Angsur

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun, yaitu 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur, antara lain:

  1. Agar lebih mudah dimengerti dan dilaksanakan.
  2. Turunnya Al-Qur’an berdasarkan suatu kejadian tertentu akan lebih mengesankan dan berpengaruh di hati.
  3. Memudahkan dalam menghafal dan memahaminya.

D. Al-Qur’an Sebagai Sumber Ijtihad yang Pertama

Ijihad adalah “sebuah usaha untuk menetapkan hukum Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits” (Lina Dahlan, 2006). Terdapat beberapa macam ijtihad, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. ‘Ijma: Kesepakatan ulama,
  2. Qiyas: diumpamakan dengan suatu hal yang mirip dan sudah jelas hukumnya,
  3. Maslahah Mursalah: untuk kemaslahatan ummat,
  4. ‘Urf: kebiasaan.

Para fuqaha dari berbagai madzhab-madzhab Islam telah mengungkapkan berbagai  pandangan mereka yang berbeda-beda mengenai sumber-sumber Ijtihad.

Al-Qur’an merupakan sumber utama hukum-hukum Ilahi. Al-Qur’an lebih diutamakan daripada sumber-sumber lain yang dirujuk guna mendapatkan berbagai hukum (ahkam) syari’ah. Al-Qur’an telah dan akan tetap – selain merupakan sumber konfrehensif hukum-hukum Ilahi – juga menjadi kriteria untuk menilai berbagai hadits. Atas dasar inilah, sejak zaman nabi Muhammad SAW hingga saat ini dan untuk selamanya, Al-Qur’an telah menjadi sumber rujukan utama bagi para fuqaha Islam.

 
3 Comments

Posted by pada Februari 13, 2010 in Al-'Ilm

 

Kaitkata: , , , , , ,

Al-Qur’an…

Pengertian Al-Qur’an Secara Etimologis

Secara etimologis, Al-Qur’an merupakan bentuk mashdar dari kata “qara’a” yang berarti bacaan. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

فَإِ ذَا قَرَأْنهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ

Artinya: “Maka apabila Kami telah membacakannya (Al-Qur’an), maka ikutilah bacaan Kami” (Q. S. Al-Qiyamah, 75:18).

Makna lafadz dalam ayat di atas adalah bacaan yang diucapkan oleh lisan malaikat Jibril AS kepada Rasulullah SAW.

Pengertian Al-Qur’an Secara Terminologis

Secara terminologis, Al-Qur’an dapat diartikan sebagai kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW dengan dibacakan secara mutawatir (umum). Para ulama ushuluddin berpendapat bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang baqa’ dan kekal.

Sedangkan menurut Ash-Shabuni ( A. Zakaria, 2003: 1) Al-Qur’an merupakan kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada penutup nabi-nabi dan para utusan dengan diwasiatkan melalui Al-Amin Jibril AS, yang tertulis di dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (umum), yang menjadi ibadah ketika membacanya, yang dibuka dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas.

Beberapa Pandangan Tentang Al-Qur’an

Dr. Maurice Bucaile (Sayid Mujtaba Musawilari, 2004), seorang ilmuan non muslim pernah berkata tentang Al-Qur’an:

Sesungguhnya perkara yang utama dan terpenting ialah bahwasanya Al-Qur’an menyeru manusia pada pengetahuan, dan ia mencakup beberapa pendapat yang beraneka ragam dalam banyak fenomena alam secara mendetail dan selaras dengan data yang dikemukakan oleh ilmu pengetahuan modern, sedangkan hal yang seperti ini tidak dikemukakan dalam Taurat dan Injil. Sesungguhnya pendapat-pendapat Al-Qur’an ini benar-benar telah menyejukan lubuk hatiku yang terdalam dan menjadikanku bertanya-tanya, bagaimana mungkin suatu teks yang akar sejarahnya kembali lebih dari tiga belas abad mencatat seluruh hakekat yang mengejutkan dan beraneka ragam ini, dan ia selaras dengan data yang dikemukakan oleh ilmu pengetahuan dan penemuan modern? Padahal Al-Qur’an dalam esensinya bukan buku ilmiah, tetapi tujuan utamanya adalah agama semata-mata, khususnya yang berkenaan dengan seruan manusia untuk memikirkan kekuasaan Alloh yang mutlaq.

Selain itu, Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata tentang Al-Qur’an:

Dan ketahuilah bahwa Al-Qur’an ini adalah penasehat yang tidak pernah menipu, pemberi petunjuk yang tidak pernah menyesatkan dan pembicara yang tidak pernah berdusta. Siapa saja yang berkawan dengan Al-Qur’an, dia pasti memperoleh kelebihan dan kekurangan, yaitu kelebihan dalam kebenaran dan kekurangan dari kebutaan (hati). Ketahuilah, tidak ada kebutuhan setelah Al-Qur’an dan tidak ada suatu kecukupan sebelum Al-Qur’an… (Sayid Mujtaba Musawilari, 2004).

Garis-Garis Besar Kandungan Al-Qur’an

Drs. Moh Riva’i (1990:97) dalam buku Ushul Fiqih-nya memaparkan pokok-pokok kandungan Al-Qur’an yang antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Tauhid, kepercayaan terhadap Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya, hari kemudian, dan Qadla dan Qadar yang baik dan buruk.
  2. Tuntunan ibadat sebagai perbuatan yang menghidupkan jiwa tauhid.
  3. Janji dan ancaman; Al-Qur’an menjanjikan pahala bagi orang yang mau menerima dan mengamalkan isi Al-Qur’an dan mengancam mereka yang mengingkarinya dengan siksa.
  4. Hukum yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
  5. Inti sejarah orang-orang yang tunduk kepada Allah, yaitu orang-orang yang shaleh seperti Nabi-nabi dan Rasul-rasul, juga sejarah mereka yang mengingkari agama Allah dan hukum-hukumnya. Maksud sejarah ini ialah sebagai tuntunan dan tauladan bagi orang-orang yang hendak mencari kebahagiaan dan meliputi tuntunan akhlaq.
 
Leave a comment

Posted by pada Februari 13, 2010 in Al-'Ilm

 

Kaitkata: , , , , , ,

Baitiy Jannatiy…

Bismillaah…

Hm…..

Astaqiy… baitiy jannatiy….

Betapa rindu diri ini merasakan kedamaian yang terangkai dalam sebuah bangunan sederhana yang kami bangun bersama. Meski ‘tak semegah istana, namun dapat menentramkan jiwa para penghuninya… Hmm, entah kapan semua itu akan terlaksana…

Perjalan kami masih panjang, Moga Allah senantiasa jadikan kami di antara orang-orang yang pandai besyukur dan bersabar…

Rabbisyrahliyy shadriy wa yasir li amriy…

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 13, 2010 in Curahan Hati...

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.